Pengetahuan

Seberapa Lama Obat Bereaksi

Seberapa Lama Obat Bereaksi

Seberapa Lama Obat Bereaksi – Efek suatu obat tidak selalu muncul seketika, kadang juga membutuhkan jeda beberapa saat sejak waktu pemberian. Ada jenis obat yang memberikan efek sangat cepat, namun ada juga yang harus ditunggu sampai berjam – jam sampai benar – benar terasa khasiatnya.

Banyak faktor yang mempengaruhi seberapa lama obat bereaksi, antara lain ukuran partikel dan kondisi individual si pasien. Namun di antara berbagai faktor tersebut, jenis sediaan obat dan cara pemberian paling menentukan seberapa cepat obat bisa memberikan efek pada pasien.

Selain itu untuk jenis obat tablet, tingkat kekerasan obat tersebut juga akan berpengaruh pada cepat lambatnya reaksi obat di dalam tubuh. Kita bisa menggunakan alat uji waktu hancur tablet untuk mengetahui seberapa kekerasan dri tablet yang akan kita minum.

Berikut adalah jenis – jenis obat yang memberikan efek paling cepat berdasarkan cara pemberiannya adalah:

1. Obat Inhalasi (7 – 10 detik)

Obat hirup atau inhalasi yang dihirup maupun disemprotkan langsung ke hidung memberikan efek paling cepat dibandingkan jenis obat yang lain. Partikel obat yang terhirup akan masuk ke paru-paru dan langsung dibawa ke otak oleh pembuluh darah yang ada di sana.

Dengan mekanisme yang sama, racun nikotin dalam rokok disebut – sebut hanya butuh 7 detik untuk memicu kerusakan di otak. Walaupun keduanya sama – sama tidak baik untuk kesehatan, akan tetapi permen nikotin lebih lambat memicu kerusakan dibandingkan rokok pada umumnya.

Jenis obat inhalasi memang lebih diperuntukkan bagi pasien yang membutuhkan efek cepat misalnya pada serangan asma. Walaupun ada juga sumber yang menyebutkan kalau efeknya dapat terjadi sekitar 7 – 10 detik, akan tetapi faktor ukuran partikel dan kondisi individual si pasien juga berperan dalam kecepatan efeknya.

2. Obat Injeksi (15 detik – 5 menit)

Obat yang diberikan lewat injeksi atau suntikan akan memberikan efek yang paling cepat, karenanya jenis obat ini banyak dipilih saat kondisi gawat darurat. Jenis obat ini lebih cepat mencapai pembuluh darah dibandingkan dengan obat yang diminum sehingga lebih cepat didistribusikan ke seluruh tubuh.

Akan tetapi kecepatan efek ini juga tergantung pada jenis injeksi atau penyuntikan yang diberikan. Injeksi intravena memberikan efek paling cepat karena langsung disuntikkan ke pembuluh darah, sementara injeksi subkutan (di bawah kulit) dan intramuskular (di jaringan otot) efeknya lebih lambat.

Pemberian obat suntik hanya bisa dilakukan oleh tenaga medis, kecuali pada kondisi tertentu misalnya pasien diabetes tipe-1 yang sewaktu – waktu harus menyuntikkan insulin sendiri. Jenis obat suntik lain seperti pereda nyeri, antibiotik dan vitamin tidak boleh disuntikkan sendiri.

3. Obat Topikal (5 menit – 30 menit)

Obat – obat topikal yang diaplikasikan ke permukaan kulit seperti halnya salep, koyo, tablet vagina dan supositoria adalah jenis obat yang kecepatan efeknya sangat bervariasi. Jenis obat ini tidak secepat obat injeksi, akan tetapi umumnya masih lebih cepat dari obat yang diminum.

Efek yang cepat umumnya bersifat lokal, hanya di sekitar lokasi pemberian misalnya salep nyeri otot yang isinya anestesi lokal. Sementara obat topikal yang efeknya sistemik misalnya plester nikotin didesain untuk bekerja lebih lambat dengan durasi lebih lama, untuk mengatasi kecanduan rokok.

Lokasi pemberian juga mempengaruhi kecepatan aksi obat, sebagai contoh obat yang bersifat sistemik apabila diaplikasikan di permukaan kulit luar dapat memberikan efek lebih lambat dibandingkan dengan tablet vagina atau supositoria yang diserap melalui anus serta dinding vagina.

4. Obat Oral (5 menit – 1 jam)

Obat – obat yang diaplikasikan lewat mulut seperti tablet, kapsul dan sirup akan lebih lambat efeknya bila dibandingkan dengan jenis obat injeksi dan inhalasi. Karena lambat, obat oral jauh lebih aman karena jika terjadi kesalahan masih ada kesempatan untuk memuntahkannya kembali.

Kecepatan aksinya dipengaruhi banyak faktor, terutama bentuk sediaan. Sirup paling cepat karena tidak butuh waktu untuk disolusi atau memecah partikel, sedangkan yang paling lama adalah tablet salut selaput (film coated) yang didesain agar tidak pecah di lambung.

Tablet hisap (sublingual) sebenarnya memberikan efek paling cepat, namun secara teknis tidak bisa dibandingkan dengan obat-obat oral lainnya. Penyerapan zat aktif pada tablet hisap tidak terjadi di saluran pencernaan melainkan di bawah lidah dan rongga mulut.

Postingan Terakhir

Beragam Warna Urine dan Penyebabnya

yohanes

Beberapa Faktor yang Menjadi Penyebab Korosi

yohanes

Perbedaan Limbah Organik dan Anorganik

yohanes

Leave a Comment